Proposal Skripsi Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa

Posted by Ubaydillah Ibnu Sholihin Monday, 7 December 2015 0 comments


Rujukan Skripsi-Postingan kali ini akan dibahasa tentang proposal skripsi  PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR  MATEMATIKA SISWA. Silahkan dirujuk dan semoga bermanfaat.




 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR  MATEMATIKA SISWA

1. Masalah
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam  menghadapi  perkembangan  zaman  yang  penuh  persaingan  diperlukan SDM  yang  handal  dalam  menghadapi  berbagai  tantangan  dan  masalah  dalam  segala  aspek  kehidupan.  Salah  satu  cara  untuk  menghasilkan  SDM  yang  hand al itu adalah melalui pendidikan.
Dalam  sistem  pendidikan  nasional,  matematika  merupakan  mata  pelajaran wajib  yang harus diberikan kepada  siswa  pendidikan dasar hingga menengah.  Hal ini  disebabkan matematika  berperan  penting dalam  kemajuan  suatu  negara. Kline (Sriwiani,  2005,  h.  1)  mengatakan  bahwa  jatuh  bangunnya  suatu  negara bergantung dari kemajuan di bidang matematika.
Berdasarkan  hal  tersebut,  matematika  seharusnya  menjadi  pelajaran  yang dibutuhkan  siswa.  Tetapi  pada  kenyataannya  banyak  siswa  merasa  malas mempelajari  matematika  karena  matematika  dirasakan  tidak  terlalu  dibutuhkan oleh siswa dalam kehidupan.
Kemalasan  siswa  dalam  mempelajari  matematika,  salah  satunya  dikarenakan matematika  diajarkan  dengan  Model  yang  tidak  menarik  bagi  murid,  guru menerangkan  sementara  murid  hanya  mencatat  (Zulkardi, 2001, h.1). Berdasarkan hal tersebut,dalam melakukan  pembelajaran   seorang  guru  harus dapat  memilih  Model  pembelajaran yang  tepat  agar  pelajaran  matematika menjadi bermakna, mudah dan menarik bagi siswa.
Namun berdasarkan kenyataan dilapangan bahwa banyak siswa yang bersikap pesimis terhadap kompetensi dan tidak berdaya melawan persaingan dalam membuat prestasi. Kenyataan menunjukkan hasil belajar matematika belum tercapai secara optimal. Hal ini terlihat dari Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) siswa kelas VII MTs Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran  2014/2015 yang masih rendah yakni hanya 60 dan nilai rata-rata mata pelajaran Matematika hasil Ujian Akhir Nasional tahun pelajaran 2014/2015 hanya 5,68.
 Untuk mengkaji rendahnya hasil  belajar matematika siswa perlu dilihat faktor-faktor yang mempengaruhinya, ada yang berasal dari faktor internal seperti: bakat, minat, kepribadian, etika belajar, dan konsep diri; dan faktor eksternal misalnya faktor guru, orang tua, teman bermain, tetangga, dan lingkungan tempat tinggal. Konsep diri merupakan faktor yang berasal dari internal siswa, sebagaimana telah dijelaskan dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Siswa yang memiliki konsep diri negatif, kemungkinan untuk meraih prestasi belajar peluangnya sangat kecil. Sebaliknya, siswa yang mempunyai konsep diri positif berpeluang besar untuk meraih prestasi secara optimal.
Para guru terus berusaha menyusun model yang bervariasi agar siswa tertarik dan bersemangat dalam belajar Matematika. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Reciprocal Teaching.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang Penagaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur Tahun Ajaran 2014/2015.
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diuraikan masalah-masalah sebagai berikut:

1.     Apakah faktor-faktor yang menjadikan mempengaruhi hasil belajar matematika?
2.     Apakah dengan memilih berbagai variasi pendekatan dalam pembelajaran dapat mempengaruhi mempengaruhi hasil belajar Matematika siswa kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015?
3.     Apakah dengan memilih model pembelajaran yang tepat dapat mempengaruhi mempengaruhi hasil belajar matematika siswa kelas VII Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015?
4.     Apakah dengan menggunakan  Model pembelajaran yang sesuai kondisi perkembangan peserta didik dapat mempengaruhi mempengaruhi hasil belajar matematika Matematika siswa kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015?
5.     Apakah dengan menggunakan pembelajaran Reciprocal Teaching dapat mempengaruhi mempengaruhi hasil belajar matematika Matematika siswa kelas VII Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015?
6.     Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran Reciprocal Teaching?
7.     Apakah pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa dalam pelajaran matematika?
C.    Pembatasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.     Gamabaran Umum hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur yang menggunakan Model pembelajaran Reciprocal Teaching
2.     Gamabaran Umum hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur yang menggunakan Model Pembelajaran Konvensional
3.     Gamabaran Umum pengaruh Model pembelajaran Reciprocal Teaching terhadap hasil belajar matematik siswa MTs. Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015
D.    Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang terdapat pada latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: ”Apakah terdapat pengaruh Model pembelajaran Reciprocal Teaching berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematik siswa MTs. MTs. Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015?”
E.     Tujuan Penelitian
            Sejalan dengan rumusan masalah yang telah dikemukan di atas, maka tujuan dari kegiatan penelitian ini meliputi beberapa hal sebagai berikut: Untuk Mengetahui pengaruh Model pembelajaran Reciprocal Teaching terhadap hasil belajar matematika siswa  kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015.
F.     Manfaat Penelitian
Penelitian  ini  diharapkan  dapat  memberikan  alternatif  pembelajaran matematika  dalam  meningkatkan  kemampuan  representasi  matematis  siswa. Selain manfaat utama tersebut, terdapat manfaat lainnya yang ingin dicapai yaitu:
1.   Manfaat untuk  peneliti
Peneliti  mendapat  pengalaman  nyata  menerapkan  pembelajaran matematika  dengan  memanfaatkan pembelajaran Reciprocal Teaching.
2.   Manfaat untuk guru
Dengan melihat keefektifan diskursus diharapkan dapat meyakinkan guru memilih  pembelajaran  yang  tepat  diterapkan  atau  sebagai  alternatif  dalam pembelajaran  matematika  sehari-hari  dengan  mempertimbangkan  kondisi kemampuan  siswa  pada  umumnya.  Dengan  kata  lain,  hasil  penelitian  dapat dijadikan  masukan  atau  referensi  bagi  guru d alam  pembelajaran  matematika dengan memanfaatkan pembelajaran diskursus berbasis pendekatan realistik.
3.   Manfaat untuk siswa
Penerapan  pembelajaran Reciprocal Teaching selaku penelitian  pada  dasarnya  memberi  pengalaman  baru  dan  mendorong  siswa terlibat  aktif  dalam  pembelajaran  agar  terbiasa  melakukan  aktiviitas komunikasi  matematis  sehingga  selain  kemampuan  representasi  matematis dan  penyelesaian  soal  meningkat  juga  pembelajaran  matematika  menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.
II. Kerangka Teoritis, Kerangka Berpikir, dan Pengajuan Hipotesis
A. Kerangka Teoritis
1.  Hakikat Hasil Belajar
Sebelum membahas lebih jauh pengertian hasil belajar, penulis akan menjelaskan makna dari belajar. Istilah belajar sudah lama dikenal, bahkan sejak manusia ada sebenarnya telah dikenal aktiviitas belajar. Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan kegiatan belajar telah ada sejak adanya manusia. Begitu pentingnya aktiviitas belajar, sehingga bagi manusia merupakan salah satu kebutuhan hidup yang tergolong fital dan menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri.
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, yang membawa dampak terjadinya berbagai perubahan pada segenap aspek kehidupan, manusia dituntut untuk mampu mengakses setiap perkembangan yang terjadi. Hal ini bisa dilakukan dengan belajar. Tanpa belajar manusia akan menjadi tertinggal dalam segala hal, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, informasi, dan lain-lain. Dengan kemampuan belajar manusia akan dapat mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Imran mengatakan, “Belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan” (Imran, 1995:2). Pernyataan ini menunjukkan bahwa manusia dituntut mengakses informasi setiap saat. Oleh karena itu kebutuhan belajar menjadi suatu keharusan untuk dipenuhi sepanjang hidup manusia. Selanjutnya, Sadiman mengatakan, “Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua oran dan berlangsung seumur hidup sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat” (Sadiman, 2003:1).
Kedua pendapat tersebut di atas memberikan pengertian yang sama bahwa belajar merupakan aktiviitas yang dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan manusia sehingga dapat menghasilkan berbagai perubahan baik aktual maupun potensial. Dengan perubahan ini diharapkan diperoleh kemampuan baru yang berlaku dalam waktu relatif lama namun perubahan itu tidak terjadi begitu saja, tetapi dilakukan dengan usaha sadar secara  sungguh-sungguh, terencana, kerja keras serta melalui kebiasaan-kebiasaan yang telah terpatri dalam jiwa setiap orang. Selanjutnya belajar merupakan suatu proses yang meliputi berbagai kompetensi, dari berbagai pengetahuan yang mudah dan sederhana hingga pada keterampilan yang membutuhkan kemampuan yang kompleks serta melibatkan berbagai prosedur yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Dengan demikian aktiviitas belajar membutuhkan usaha yang keras serta kebiasaan yang memadai. Berbagai aspek perubahan yang diharapkan dari proses belajar dikemukakan oleh Purwanto, “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman” (Purwanto, 1992:84). Hal ini dapat dijelaskan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalamannya. Perubahan tersebut sebagaimana dikemukakan Winkel, “Belajar adalah suatu aktiviitas mental psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif  dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai serta sikap. Perubahan itu relatif konstan dan berbekas” (Winkel, 1991:36).
Pada prinsipnya teori-teori tersebut di atas memberikan pengertian yang sama mengenai belajar. Belajar berarti usaha mengubah tingkah laku pada indiviidu-indiviidu yang belajar. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri. Jelasnya menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang. Perubahan tersebut tidak terjadi  begitu saja tetapi diperoleh dengan usaha sadar dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah terpatri dalam diri seseorang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga untuk menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh seseorang secara sadar dan disengaja, disertai usaha keras dan kebiasaan-kebiasaan yang terencana dan sungguh-sungguh untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah adanya perubahan-perubahan, baik perubahan yang menyangkut pengetahuan, kecakapan, pemahaman maupun keterampilan.
Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang sepenuhnya tergantung pada siswa itu sendiri, yaitu kecerdasan, kesiapan, dan bakat. Hal ini diungkapkan oleh Ruseffendi,
“Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa meliputi faktor yang sepenuhnya bergantung pada siswa yakni kecerdasan anak, kesiapan anak, dan bakat anak. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor-faktor luar yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu kompetensi guru, suasana belajar, kepribadian guru, dan kondisi masyarakat” (Ruseffendi, 1988:8).

Senada dengan pendapat di atas, Sudjana mengemukakan,

“Tingkah laku sebagai hasil proses belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah kemauan yang dimiliki, minat dan perhatian, kebiasaan, usaha, dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Faktor eksternal yang banyak mempengaruhi proses belajar adalah lingkungan sekolah yang meliputi proses belajar mengajar, guru, sarana, dan kurikulum. Lingkungan sekolah tersebut pada hakekatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar siswa yaitu tempat siswa berinteraksi sehingga menumbuhkan kegiatan belajar” (Sudjana, 1989:6)

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
     Faktor Internal
1. Kecerdasan
Yang dimaksud dengan kecerdasan disini adalah kemampuan siswa yang meliputi kemampuan mengingat-ingat, dapat memusatkan perhatian, kemampuan mengambil makna, kemampuan mengemukakan pendapat, dan kecepatan belajar.
2. Kesiapan
Keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh kesiapan siswa itu sendiri. Kesiapan ini meliputi perkembangan mental dan pengetahuan prasyarat yang telah dimiliki oleh siswa, juga termasuk kematangan mental, jasmani atau rohani, emosional, dan sosialnya.
3. Bakat
Bakat adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir (kemampuan alami).
4. Kemauan
Yang dimaksud kemauan adalah kemauan siswa untuk belajar. Jelas bahwa prestasi atau hasil belajar akan menurun apabila pada diri siswa tidak ada kemauan untuk belajar.
5. Minat
Minat adalah keinginan yang timbul karena adanya dorongan untuk memiliki atau menguasai sesuatu pelajaran. Oleh karena itu bagi siswa yang minatnya cukup tinggi untuk belajar matematika maka kemungkinan hasil belajarnya juga akan baik.
      Faktor Eksternal
1. Kemampuan Guru
Keberhasilan siswa belajar akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan gurunya. Seorang guru yang profesional harus dapat menciptakan suasana belajar sedemikian sehingga siswa aktif dalam belajar. Untuk itu guru harus mempunyai kemampuan-kemampuan, seperti kemampuan menguasai materi, dapat mengorganisasikan kelas dengan baik, mampu memberikan pengarahan dan bimbingan yang tepat.
2. Pribadi dan Sikap Guru
Pribadi yang baik dari seorang guru, baik sikap, tingkah laku maupun perbuatannya merupakan teladan bagi siswa dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu guru dituntut untuk :
-          Memiliki kepribadian sebagai pendidik
-          Selalu menunjukkan hubungan baik dengan siswa
-          Menunjukkan kepemimpinan yang demokratis
-          Bersikap adil kepada semua siswa
3. Suasana Pengajaran
Suasana pengajaran yang  kurang baik dalam kegiatan belajar mengajar dapat menyebabkan ketidakberhasilan siswa dalam belajar. Untuk itu agar suasana pengajaran menjadi baik seorang guru supaya :
-          Bersikap terbuka terhadapt respon siswa
-          Memberikan kebebasan dan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat
-          Berhati-hati bila menilai siswa berdasarkan respon lisan
4. Penyajian Materi Pelajaran
Penyajian materi oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar di kelas turut pula menetukan keberhasilan siswa dalam belajar. Yang dimaksud disini antara lain : struktur pengajaran, sistematika atau urutan logis materi, dan metode.
5. Kondisi Masyarakat
Kondisi masyarakat atau lingkungnan secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi hasil pendidikan di sekolah. Bila keadaan masyarakat cocok dengan pendidikan di sekolah maka akan membantu keberhasilan pendidikan di sekolah. Tetapi sebaliknya bila keadaannya bertentangan atau tidak sejalan dengan pendidikan di sekolah maka hal ini akan merusak pendidikan.

c. Tes Hasil Belajar
Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Tes hasil belajar adalah alat untuk membelajarkan siswa. Meskipun demikian keseringan penggunaan tes tertentu akan menimbulkan kebiasaan tertentu. Artinya, jenis tes tertentu akan membentuk jenis-jenis ranah kognitif, afektif, psikomotor tertentu. Guru harus mempertimbangkan dengan seksama kebaikan dan kelemahan jenis tes hasil belajar yang digunakan. Dimyati dan Mujiono mengemukakan,
“Tes hasil belajar dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar dan mencari masalah-masalah dalam belajar. Untuk menilai kemajuan dalam belajar, pada umumnya penyusun tes adalah guru. Untuk mencari maslah-masalah dalam belajar, sebaiknya penyusun tes adalah tim guru bersama-sama konseler sekolh. Oleh karena itu, pada tempatnya guru profesional memiliki kemampuan melakukan penelitian secara sederhana” (Dimyati & Mudjiono, 2002:259).

Adapun jenis tes yang digunakan umumnya digolongkan menjadi tes lisan dan tes tertulis. Tes tulis terdiri dari tes esai dan tes objektif. Tes lisan memiliki kelebihan dan kelemahan sebagaimana dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono,
“Kelebihan tes lisan adalah (i) penguji dapat menyesuailkan bahasa dengan tingkat daya tangkap siswa, (ii) penguji dapat mengejar tingkat penguasaan siswa tentang pokok bahasan tertentu, dan (iii) siswa dapat melengkapi jawaban lebih leluasa. Kelemahan tes lisan adalah (i) penguji dapat terjerumus pada kesan subjektif atas perilaku siswa, dan (ii) memerlukan waktu yang lama” (Dimyati & Mudjiono, 2002:258).

Tes tertulis memiliki kelebihan dan kelemahan, sebagaimana yang   dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono,
“Kelebihan tes tertulis adalah (i) penguji dapat menguji banyak siswa dalam waktu terbatas, (ii) objektiviitas pengerjaan tes terjamin dan mudah diawasi, (iii) penguji dapat menyusun soal-soal yang merata pada tiap pokok bahasan, (iv) penguji dengan mudah dapat menentukan standar penilaian, dan (v) dalam pengerjaan, siswa dapat memilih menjawab urutan soal sesuai kemampuannya. Kelemahannya adalah (i) penguji tidak sempat memperoleh penjelasan tentang jawaban siswa, (ii) rumusan pertanyaan yang tidak jelas akan menyulitkan siswa, dan (iii) dalam pemeriksaan dapat terjadi subjektiviitas penguji” (Dimyati & Mudjiono, 2002:258).

Lebih lanjut,  Dimyati dan Mudjiono menjelaskan kelebihan dan kelemahan tes esai. Kelebihan tes esai adalah (i) penguji dapat menilai dan meneliti kemampuan siswa bernalar, dan (ii) bila cara memberi angka ada kriteria jelas maka dapat menghasilkan data objektif. Kelemahannya adalah (i) jumlah soal sangat terbatas dan kemungkinan siswa berspekulasi dalambelajar, dan (ii) objektiviitas pengerjaan dan pembinaan sukar dilakukan.
Tes objektif memiliki kelebihan diantaranya adalah (i) penguji dapat membuat soal yang banyak dan meliputi semua pokok bahasan, (ii) pemeriksaan dapat dilakukan secara objektif dan cepat, (iii) siswa tak dapat berspekulasi dalam belajar, dan (iv) siswa yang tak pandai menjelaskan dengan bahasa yang baik tidak terhambat. Sedangkan kelemahan tes objektif adalah (i) kemampuan siswa bernalar tidak tertangkap, (ii) penyusunan tes memakan waktu lama, (iii) memakan dana besar, (iv) siswa yang pandai menerka jawaban dapat keuntungan, dan (v) pengarsipan soal sukar dan memungkinkan kebocoran.
Hasil belajar tiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian, dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar dan evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut. Oleh karena itu, guru mengadakan analisis tentang hasil belajar siswa di kelasnya.
d. Analisis Hasil Belajar                                                                          
Analisis hasil belajar siswa merupakan pekerjaan khusus. Dimyati dan Mudjiono mengemukakan bahwa dalam melakukan analisis hasil belajar guru dapat melakukan langkah-langkah berikut:
  • Merencanakan analisis sejak awal semester, sejalan dengan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);
  • Merencanakan jenis-jenis pekerjaan siswa yang dipandang sebagai hasil belajar;
  • Merencanakan  jenis-jenis ujian dan alat evaluasi, kemudian menganalisis kepantasan jenis ujian dan alat evaluasinya;
  • Mengumpulkan hasil belajar siswa, baik berupa jawaban ujian tulis, ujian lisan, dan karya tulis maupun benda;
  • Melakukan analisis secara statistik tentang angka-angka perolehan ujian dan mengkategorikan karya-karya yang tidak bisa diangkakan;
  • Mempertimbangkan tingkat kesukaran bahan ajar bagi kelas, yang dibandingkan dengan program kurikulum yang berlaku;
  • Memperhatikan kondisi-kondisi ekstern yang berpengaruh atau diduga ada kaitannya dengan belajar;
  • Guru melancarkan suatu angket evaluasi pembelajaran pada siswa menjelang akhir semester, pada angket tersebut dapat ditanyakan tanggapan-tanggapan siswa tentang jalannya proses belajar-mengajar dan kesukaran bahan belajar. Dengan analisis tersebut, guru dapat mengambil kesimpulan tentang hasil belajar kelas dan indiviidu.
Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah nilai, jasa, atau manfaat yang diperoleh siswa melalui kegiatan penilaian dan atau pengukuran. Hasil belajar ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam menentukan kegiatan belajar selanjutnya
2. Hakikat Model Pembelajaran Reciprocal Teaching
Model pembelajaran Reciprocal Teaching mengutamakan peran aktif siswa dalam pembelajaran untuk membangun proses berpikir siswa sehingga siswa dapat lebih mengembangkan kemampuan berfikir kreatif. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar konstruktiviisme.
Menurut Suparno (Hamidah, 2007: 21)  prinsip konstuktiviisme adalah
1)   Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa secara kreatif.
2)  Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa.
3)  Mengajar adalah membantu siswa belajar.
4)  Pembelajaran lebih ditekankan kepada proses bukan pada hasil akhir.
5)  Guru adalah fasilitator.
Penelitian mengenai strategi pembelajaran lebih cenderung merupakan penelitian aspek psikologi dari suatu sistem atau struktur. Banyak peneliti yang  mendukung penelitian penulis, diantaranya:
Wahyu Widiyastuti (2003); dalam penelitian yang berjudul Eksperimentasi Pengajaran Matematika dengan Metode Penemuan melalui tanya jawab pada pokok bahasan teorema Phytagoras  ditinjau dari aktiviitas belajar siswa yang menyimpulkan:
1)      Adanya dampak yang berarti antara metode mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa.
2)      Adanya dampak yang berarti antara aktifitas belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa.
3)      Ada dampak yang berarti antara metode mengajar guru dengan aktifitas mengajar dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Menurut Hujuno   (Hamidah: 2007: 21) prinsip kontuksiviisme adalah sebagai berikut :
1)      Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikianrupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2)      Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar.Tidak semua mengerjakan tugas yang sama misalnya suatu masalah dapat dikerjakan dengan berbagai cara.
3)      Mengintregrasikan pelajaran dengan situasi yang realistis dan relevan dengan melibatkan pengalaman kongkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep Matematika melalui kegiatan kehidupan sehari – hari.
4)      Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru dan siswa – siswa.
5)      Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
6)      Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar.
Proses pembelajaran merupakan suatu proses aktif siswa yang sedang belajar untuk membangun pengetahuannya sendiri dan guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk menyediakan suasana belajar yang mendukung proses konstruksi pengetahuan siswa.
Berdasarkan pandangan konstruktiviitisme untuk lebih mengoptimalkan model pembelajaran Reciprocal Teaching, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Djamaroh (Hamidah, 22-23) menyatakan bahwa proses kelompok adalah suatu usaha utuk mengelompokan siswa kedalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan indiviidual sehingga terciptanya kelas yang bergairah dalam belajar. Sehingga diharapkan belajar kelompok meningkatkan pengetahuan siswa dan menjadikan belajar itu menjadi suatu yang menyenangkan dan dengan diterapkannya Reciprocal Teaching dengan cara pembagian kelompok diharapkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap prestasi belajar matematika.
Tiga dalil pokok pieget  (Dahar, 149)   dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembangan mental yaitu:
1.      Perkembangan itelektual sama, maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan – urutan tersebut dengan urutan yang sama
2.      Tahap – tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis, dan penarikan kesimpulan) yang menunjukan adanya tingkah laku intelektual.
3.      Gerak melalui tahap – tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equili – bration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (analisa) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
               Gagne (Dahar, 148) mengemukakan bahwa satu tindakan belajar meliputi 8 fase belajar yaitu fase harapan (motivasi), fase pengenalan, fase perolehan, fase retensi (penimpanan memori), fase pemanggilan, fase generalisasi (transfer), penampilan (pemberian respon), dan fase reinforsemen yang merupakan kejadian – kejadian internal yang dapat di strukturkan oleh siswa atau guru, dan setiap fase ini dipasangkan dengan suatu proses internal yang terjadi dalam pikiran siswa. Dan Garge menyarankan agar setiap guru memperhatikan 8 kejadian instruksi waktu menyajikan suatu pelajaran pada sekelompok siswa.
Hendriana (Hamidah: 2007 :23) dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Reciprocal Teaching yang dilakukan dikelas secara signifikan memberi konstribusi positif terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika
Turney  (Mulyasa,  69) Mengungkapkan 8 keterampilan mengajar yang sangat berperan dan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan. Dengan keterampilan mengajar, maka akan tercipta pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.
Reigeluth sebagaimana dikutip keller (Hamzah, 137) menyebutkan bahwa hasil belajar adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indicator tentang nilai dari penggunaan suatu metode dibawah kondisi yang berbeda.
B. Kerangka Berpikir
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini bermula dari adanya masalah terhadap hasil belajar  matematika siswa MTs. Mathla’ul Anwar Sumur  yang masih tergolong lemah. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru matematika yang mengajar disekolah tersebut, diperoleh bahwa sebagian besar siswanya masih belum bisa mengemukakan kembali hal- hal yang diinginkan oleh soal, seperti jika siswa diberikan permasalahan berupa soal cerita dalam kehidupan sehari- hari, maka siswa tersebut belum bisa mengemukakannya dalam model matematika, alhasil, siswa tidak dapat menyelesaikan masalah yang diajukan oleh guru.
Pembelajaran  dengan menerapkan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut. Khususnya pada mata pelajaran matematika mereka akan dapat menuliskan lambang- lambang dalam bentuk matematika. Karena pada metode pembelajaran ini guru menunjuk siswa secara acak, sehingga setiap siswa harus siap untuk maju mempresentasikan hasil yang telah kelompok mereka diskusikan. Hal tersebut secara tidak langsung, menuntut para siswa untuk memahami materi yang mereka pelajari dan siswa dapat menjelaskannya kembali baik secara lisan, catatan, grafik, atau diagram. Dengan demikian, mereka mampu mengomunikasikan bahasa, ide / gagasannya dalam model matematika, sehingga melalui proses tersebut hasil belajar matematik siswa dapat ditingkatkan.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori, penjelasan konsep variabel penelitian dan kerangka berfikir dapat dirumuskan sebagai berikut : Diduga Terdapat Pengaruh Positif penggunaan Model pembelajaran Reciprocal Theaching terhadap hasil belajar Matematika Siswa Kelas VII Mathla’ul Anwar Sumur Tahun Ajaran 2014/2015.
III. Metodologi Penelitian
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di lokasi MTs. Mathla’ul Anwar Sumur yang beralamat Jln. Kerta Jaya Taman Nasional Ujung Kulon Kecamatan Sumur  Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini dilakukan pada kelas VII Semester 2 pada pokok bahasan Bentuk Aljabar  tahun pelajaran 2014/2015. Berikut ini adalah jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian.
Tabel 1
Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
No
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Februari
Maret
III
IV
V
I
II
III
1
Pengamatan tahap awal dan pengumpulan data-data awal






2
Penentuan kelas eksperimen dan kontrol






3
Menyusun kisi-kisi instrumen penelitian






4
Menyusun instrumen penelitian






5
Uji coba instrumen penelitian






6
Melaksanakan pembelajaran pada kelas eksperimen






7
Melaksanakan tes hasil belajar matematika pada kelas eksperimen dan kontrol






8
Menganalisis hasil penelitian






9
Menyusun laporan







B.     Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan obyek dalam suatu penelitian dengan syarat-syarat tertentu yang mempunyai cirri-ciri dan sifat-sifat yang sama. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII  MTs. Mathla’ul Anwar Sumur sebanyak 62 orang.
2.     Sampel Penelitian
Sampel merupakan wakil dari keseluruhan subjek penelitian. Dalam pengambilan sampel pada penelitian ini berdasarkan pendapat Arikunto (1996:120) menjelaskan bahwa, “Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 %, atau 20-25% atau lebih”. Berdasarkan pendapat tersebut, dikarenakan populasi yang ada hanya 62 maka pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling atau sampel jenuh. Dengan demikian sampel dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur sebanyak 2 kelas dengan rincian sebagaimana tabel berikut:
Tabel 2
Data Jumlah Sampel Penelitian
  MTs. Mathla’ul Anwar Sumur
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Ket.
VII A
13
18
31
Eksperimen
VII B
15
16
31
Kontrol
Jumlah
28
34
62


C.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode kuasi eksperimen (eksperimen semu). Desain penelitian yang digunakan adalah Desain Kelompok Kontrol Non-Ekuivalen.
Adapun diagram Desain Kelompok Kontrol Non-Ekuivalen adalah sebagai berikut:

Tabel 3
Desain Kelompok Kontrol Non-Ekuivalen
Kelas
Pretes
Treatment
Postes
Ekperimen
O1
X1
O2
Kontrol
O1

O2
                        Ruseffendi (2005:53)
Keterangan:
O1                    :  Pretes
X1                    :  Perlakuan pada kelas eksperimen dengan Pembelajaran
                           Reciprocal Teaching
O1                    :  Pretes
O2                    :  Postes

D. Teknik Pengumpulan Data
Data didapat secara langsung ke tempat penelitian dengan data berupa hasil test. Sedangkan test terbagi menjadi dua cara yaitu:
a.        Tes awal (pretest)
Tes awal (pretest) digunakan untuk memperolah informasi kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
b.      Tes akhir (postest)
Tes akhir (postest) digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan akhir siswa pada kelas eksperimen maupaun kelas kontrol, sekaligus untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan metode Penemuan Terbimbing terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa.
E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini sangat diperlukan untuk menjawab masalah-masalah penelitian dan untuk menguji hipotesis.  Dari instrumen penelitian ini, penulis dapat mengukur data kuantitatif yang terdapat dalam variabel.                              Supaya tidak terdapat keraguan  dan dapat memperterang arti dari variabel yang ada, sehingga dapat digunakan secara operasional, maka perlu dijelaskan definisi dari variabel terikat yaitu:
1.      Definisi Konseptual
Hasil belajar sebagai salah satu tolak ukur  untuk membuktikan bahawa metode belajar yang digunakan dapat mempengaruhi prestasi siswa terhadap lingkungan kelas, dimana terjadi interaksi. Pesan yang dialihkan berisi tentang materi matematika yang dipelajari di kelas..
2.      Definisi operasional
Hasil belajar ialah skor yang diperoleh siswa kelas VII  MTs Mathla’ul Anwar Sumur, setelah siswa didalam menyelesaikan angket yang berkaitan dengan pendekatan pembelajran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar yang dapat dirasakan oleh sisawa.
Untuk menentukan kelayakan dari instrumen tersebut, maka instrumen tersebut terlebih dahulu diuji cobakan agar dapat diketahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda dari instrumen tersebut.
1.  Validitas
Suatu instrumen dapat dikatakan valid, bila instrumen tersebut mampu tepat mengukur apa yang hendak diukur. Adapun analisis validitas yang penulis gunakan adalah analisis butir soal, yaitu menghitung korelasi antara skor-skor yang ada pada tiap butir yang dimaksud dengan skor total. Instrumen tersebut dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila setiap butir pertanyaan dalam instrumen memiliki daya dukung (korelasi) yang tinggi terhadap total instrumen.
Cara mengetahui validitas alat ukur dengan menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Pearson, yaitu teknik korelasi produk moment. Rumus korelasi produk moment yang digunakan adalah korelasi produk moment dengan angka kasar, yaitu (Arikunto, 2007:69):
Keterangan:
  :      koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
X     :      Nilai uji coba tes
Y     :      Nilai rata-rata
n     :      Banyaknya subjek

Tabel 4
Klasifikasi Interpretasi Validitas
Besarnya
Interpretasi
0, 80 < rXY ≤ 1,00
0, 60 < rXY ≤ 0, 80
0, 40 < rXY ≤ 0, 60
0, 20 < rXY ≤ 0,40
0, 00 < rXY ≤ 0, 20
rXY ≤ 0,00
Validitas sangat tinggi (sangat baik)
Validitas tinggi (baik)
Validitas sedang (cukup)
Validitas rendah (kurang)
Validitas sangat rendah
Tidak valid
Suherman (2001:136)
       2.  Reliabilitas
Rumus yang digunakan untuk mencari koefisien reliabilitas adalah rumus Kuder dan Richardson (KR-20). Diperoleh nilai reliabilitas sebagai berikut:







Tabel 5
Klasifikasi Interpretasi Reliabilitas
Besarnya
Interpretasi
 ≤ 0,20
0,20 ≤ ≤ 0,40
0,40 ≤  ≤ 0,60
0,60 ≤  ≤ 0,80
0,80 ≤  ≤ 1,00
Reliabilitas sangat rendah
Reliabilitas rendah
Reliabilitas sedang
Reliabilitas tinggi
Reliabilitas sangat tinggi
Suherman (2001:156)
Apabila  hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien reliabilitas soal bentuk uraian yaitu sebesar 0,443 maka berdasarkan klasifikasi di atas, reliabilitas soal termasuk sedang.
      3.   Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran adalah derajat kesukaran suatu soal dinyatakan dengan bilangan perhitungan tingkat kesukaran butir soal pilihan ganda dan uraian menggunakan rumus berdasarkan Surapranata (2004:21). Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks kesukaran adalah sebagai berikut (Surapranata, 2004:21):

Keterangan :
TK       :    Tingkat kesukaran
         :    Rata – rata skor
SMI     :    Skor maksimal ideal

Tabel 6
Kriteria Klasifikasi Tingkat Kesukaran
Nilai P
Kategori
P < 0,3
0,3 ≤ P ≤ 0,7
P > 0,7
Sukar
Sedang
Mudah
(Surapranata, 2004 : 21)
       4.  Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah (Arikunto, 2007:211).
Menurut Yuhana dkk (Afriati, 2006:35), daya pembeda untuk soal uraian dapat dihitung menggunakan rumus sebagai  berikut :
DP =                   
 
Keterangan :
                  DP       = Daya pembeda
                  XA       = rata- rata kelompok atas
                  XB          = rata- rata kelompok bawah
                  SMI     = Skor Maksimal Idea.


Tabel 7
Kriteria Daya Pembeda
Daya Pembeda
Kriteria
 DP ≤ 0,00
Sangat jelek
0,00 < DP ≤ 0,20
Jelek
0,20 < DP ≤ 0,40
Cukup
0,40 < DP ≤ 0,70
Baik
0,70 < DP ≤ 1,00
Sangat Baik
                                                                        (Suherman,2001:176)

G. Teknik Analisa Data
      Data yang diolah pada penelitian dapat dianalisis agar dapat memberikan gambaran yang jelas tentang masalah yang diteliti, sehingga peneliti dapat mengetahui apakah hipotesis yang diberikan diterima atau ditolak. Untuk mengetahui hipotesis itu diterima atau ditolak maka harus ada pengujian terhadap data tersebut.

1.                              Uji Normalitas
Untuk menguji normalitas, menggunakan uji chi-kuadrat . Adapun rumus yang digunakan dalam uji normalitas adalah sebagai berikut:
                                                                   
Keterangan:
   = Uji Chi-kuadrat
   = Nilai dari hasil pengamatan
   = Nilai yang diharapkan
k    = banyaknya kelas interval
 (Sugiyono, 2007:107)
Hipotesis dalam uji normalitas adalah sebagai berikut:
  : Populasi berasal dari data berdistribusi normal.
  : Populasi berasal dari data tidak berdistribusi normal.

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
1.                  Jika  £  , maka data dinyatakan berdistribusi normal
2.                  Jika  > , maka data dinyatakan berdistribusi tidak normal
Karena data yang diperoleh berdistribusi normal, maka dilakukan uji homogenitas.
2.      Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui dua kelompok memiliki varians yang sama atau tidak. Jika kedua kelompok tersebut memiliki varians yang sama maka kelompok tersebut dikatakan homogen.


Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
     atau    
Keterangan:
F    :     Uji homogenitas
S12 :     Variansi terbesar
S22  :     Variansi terkecil
(Sudjana, 2000:250)
3.      Pengujian Hipotesis
Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap hasil belajar matematika siswa selanjutnya adalah melakukan analisis uji-t untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Reciprocal Teaching. Dalam hal ini uji statistik yang digunakan adalah uji statistik uji-t untuk satu pihak (pihak kanan). Adapun langkah-langkah dalam melakukan pengujian adalah sebagai berikut:
Hipotesis yang akan diujikan adalah:
Ho : μ1 μ2 , nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol.
H1 : μ1 > μ2. nilai rata-rata kelompok ekperimen lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol.
α    = 5%
Adapun rumus uji-t  yang digunakan yaitu sebagai berikut:
Dengan,
Keterangan:
 : rata-rata nilai kelompok eksperimen
 : rata-rata nilai kelompok kontrol
  : simpangan baku
: varians pada kelompok eksperimen
: varians pada kelompok kontrol
 : banyak subjek kelompok eksperimen
 : banyak subjek kelompok kontrol
   (Sudjana, 2001: 293)
Dari thitung yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan ttabel yang memiliki derajat kebebasan dk = N1 + N2 - 2 dan taraf signifikansi α = 5%. Kriteria pengujian adalah tolak hipotesis nol jika thitung > ttabel.

H. HIPOTESIS STATISTIK

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut :
Secara sistematis, kedua hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ho : μ1 μ2 , nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol.
H1 : μ1 > μ2. nilai rata-rata kelompok ekperimen lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol.
    Keterangan:
H1  :Terdapat pengaruh Pembelajaran Reciprocal Teaching  terhadap hasil belajar  matematika siswa di kelas VII MTs Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015.
H0  :Tidak terdapat pengaruh  Pembelajaran Reciprocal Teaching  terhadap hasil belajar matematika siswa di kelas VII MTs. Mathla’ul Anwar Sumur tahun pelajaran 2014/2015.
I. Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Dapatkan Bukunya Disini
Hamalik, Umar. 2005.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Haryani,  S.  N.  (2007).      Kemampuan  Representasi  Matematis  Siswa  SMP. Karya Ilmiah: Tidak diterbitkan.
Hudiono,  B.  (2005).      Peran  Pembelajaran  Diskursus  Multi  Representasi (DMR)  terhadap  Perkembangan  Kemampuan  Matematik  dan  Daya  Representasi pada  Siswa  SLTP .  Disertasi  pada  Program  Pasca  Sarjana  UPI  Bandung:  Tidak diterbitkan.
Hamidah.N. (2007) Upaya meningkatkan kemampuan generalisasi MKK siswa SMP melalui model pembelajaran Reciprocal Teaching. Bandung : Skripsi UPI.
Hudoyo, Herman. 2001. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: IMSTEP.
Morgan,  C.  (2000).   Discourse  of  Assessment_Discourse  of  Mathematics. Institute of Education .  London: University of London Press
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution. 2008. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Palinscar, A.S. & Brown, A. (1984). Reciprocal Teaching of Comprehension Tostering and Comprehension Monitoring Activiities Cognition and Instruction. ( On Line ) Tersedia :   
Palincar, A.S. (1984) Strategies for Reading Comprehension Reciprocal Teaching (On Line) Tersedia :
Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Saragih, Sahat. Menumbuhkembangkan Berpikir Logis dan Sikap Terhadap Matematika Melalui Pendekatan Matematika Realistik. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 061, Tahun ke – 12, Juli 2006. Jakarta : Depdiknas.
Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito
Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: alfabeta
Suherman, Eman. 2001. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta  : PT Bumi aksara.
Slameto. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Surapranata, S. 2006. Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Trihendradi, Cornelius. 2005. Step by Step SPSS 13 Analisis Data Statistik. Yogyakarta: Andi
Wardhani, S. 2005. Penilaian Hasil Belajar Matematika Aspek Pemahaman Konsep Representasi dan Komunikasi Pemecahan Masalah di SMP. Paket Pembinaan Penataran (PPP). Yogyakarta: PPPG Matematika
Wati, Yulia. 2008. Modul Praktikum Lab. Statistik. Modul Binus University. Jakarta: tidak diterbitkan.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Proposal Skripsi Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa
Ditulis oleh Ubaydillah Ibnu Sholihin
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.zakymedia.com/2015/12/proposal-skripsi-pengaruh-model.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. Untuk info lebih lengkap silahkan email ke ubaidibnussholih@gmail.com atau HP 087773112977 (sms only).

0 comments:

Post a Comment

Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of www.ZakyMedia.com.